Saturday, 5 April 2014

keseratus dan dua puluh lima,

Hal Tertunda

nada-nada bicara mulai pincang
setelah kebersamaan kita dihadang jarak dan waktu
detak-detak jiwa kita gundah
setelah perasaan dahulu kian berubah

aku terlalu mahu melupakan tiap satunya yang pernah
lalu aku memilih untuk melupakanmu juga
tanpa aku sedar kejam itu apa dan bagaimana

kini hujan tidak lagi membasahkan bahu
tidak juga dia membekukan rindu
dihujungnya
dia sekadar turun sebagai dingin yang palsu
berkira-kira untuk disejat waktu
apa mungkin dia menunda syurga biru
atau pulang ke daerah dulu

kemudian datang satu rindu yang sungguh aku curiga
antara mahu dan ragu
apa harus aku berpaling padamu lalu merajut kembali ikatan kita
atau pergi tanpa menoleh lagi lalu diamkan saja segala rasa

betapa aku kasihkan engkau
orang jauh, pulanglah
bahu ini siap untuk menanggar semua lelahmu

p/s: pertama kali diperdengarkan di Puisi Bagasi, 5 April 2014. untuk videonya, klik di sini

No comments:

Post a Comment

terima kasih c: