Wednesday, 16 May 2012

keempat puluh dan dua,

Aku bukan manusia suci
Yang mencintai Penciptanya tanpa berbagi
Aku manusia biasa
Yang nyata perlu cinta dari hati ke hati

Ajarkan aku menjadi naif
Senaif dirimu yang mampu tersenyum dalam beban
Atau setidaknya ajarkan aku lagi
Untuk menerima tanpa harus hanyut

Separuh nafas jiwaku kau minta
Aku coba berkaca pada air mata
Bertanya pada suara yang lelah
Apa aku masih punya yang kau minta?

Mungkin canda akan serba nyata
Atau jelang senja lagi saat kita bersama
Tertawa, dan bermain mata
Cinta…? Sepertinya kan?

Kuhadirkan kau ke dalam mimpi ini
Untuk setia mendengar cerita perjalananku
Tapi sampai saat ini kau hanya tersenyum
Padahal aku ingin kau menjawab
Mengapa aku masih harus mencintai kebaikan
Yang pada akhirnya juga akan sirna…


Sosok biru menahan jiwa yang memang sudah ada
Sosok lama yang hadir serupa kabut senja
Aku tahu kau ada…
Untuk siapa ?

Alur sungai di pipi itu telah kering
Tapi dia mungkin akan kembali
Seiring waktu, seiring doa, seiring rasa

Kenapa dunia tidak selalu seirama
Saat harap… Saat lepas…
Saat itu aku menggigil
Karena dia yang datang bukan yang aku minta
……
Aku kangen…
Bukan padamu. Tapi pada jiwamu
Ketegaranmu. Kemisteriusanmu. Sosokmu
Tapi kau pilihanku.

Tolong ceritakan padaku
Apakah cinta masih punya arti bagi kita?
Sedang nyata kita sudah terlelap
Dalam remang bilik yang kita bangun sendiri

Sering kutanyakan dalam hati
Mengapa kita semua harus terbangun
Dari ranjang mimpi yang kita pilih sendiri
Padahal aku enggan
Karena hidup, bagiku tak seindah mimpi

Berikan aku waktu sejenak untuk bernapas di sini
Sebelum aku mati karena ikatan rindu
Sebelum aku pulang lagi ke tempat dulu
Sebelum… sebelum kau tahu
Aku masih yang dulu

Sebab cinta tetap cinta
Sebening telaga atau air mata surga
Sejalan dengan belati atau duri
Itulah cinta,
masih ada yang bertanya?

Hari itu berlalu
tertiup jam yang diganti menit
dan menit pergi tak kembali
Meninggalkan sesal dan detik terakhir
yang tak mampu mengusir galau
Jangan tanya mengapa
Karena detik
hanya detak jantung
yang tak kembali
 

Tak satupun ada yang ingin tertutup kabut
namun jika angin salah sampaikan salam
apakah berarti harus berlalu dalam diam?
aku hanya ingin menyapa cinta
pada bayangan yang semakin maya.
Sungguh…
aku tak ingin kehilangan mentari lagi…

Kecewa ini tak pantas kubawa
Entah pada siapa atau pada apa harus kutimpakannya
Kecewaku kini tak bermuara
Tak sanggup lagi mengadu luka
Bahkan limpahkan rasa dalam air mata
Tuhan…
Perkenankan aku mati untuk sementara



notakaki; masihkah senyum itu milikku

No comments:

Post a Comment

terima kasih c: